Bumi Tidak Sakit #2

Pagebluk Covid-19 seakan-akan ndagel kepada manusia. Manusia dengan berbagai teknologi canggih dan ilmu pengetahuan adiluhungnya disuruh untuk mengingat kembali pelajaran dasar menjaga kebersihan. Bahkan negara-negara maju yang dianggap sebagai kiblat dunia dibuat kocar-kacir.

Continue reading “Bumi Tidak Sakit #2”

Bumi Tidak Sakit #1

Banyak istilah yang menyiratkan bumi sedang sakit saat pagebluk Covid-19 melanda dunia. Contohnya ungkapan “cepat sembuh bumiku” dengan tambahan ilustrasi bumi yang memakai masker. Saya pribadi tidak begitu setuju dengan ungkapan macam ini.

Continue reading “Bumi Tidak Sakit #1”

Gunung Bismo

Prinsip kami sejak dulu, melihat Wonosobo dari sudut lain. Kami memutuskan untuk menengok Wonosobo dari sisi Gunung Bismo. Kami memanfaatkan libur pergantian semester dan kesempatan berkumpul.

Keputusan dihasilkan di warung ronde. Kami (saya, Dema, Refi, dan Kipe) berangkat mendaki pagi dan turun siang pada hari itu juga. Jalur yang kami lewati adalah bukan jalur pendakian resmi tetapi jalur petani.

Continue reading “Gunung Bismo”

Film Jadul yang Cantik: Asrama Dara

Saya terjaga jam 2 pagi, tidak kembali mengantuk. Dua video dakwah dan dua video tentang tetumbuhan sudah ditonton, tidak mengantuk pula. Akhirnya Youtube merekomendasikan film karya Usmar Ismail, “Asrama Dara”.

Film yg dibikin tahun 1958 ini mengangkat tema yang cukup kompleks, bagaimana perempuan bisa menentukan nasib sendiri dan menghadapi berbagai prahara serta tuntutan sosial. Meski demikian, dibawakan dengan komedi dan musikal yang pas. Berlatar Jakarta tempo dulu membuat film ini menjadi kisah romansa dengan berbagai bumbu yang tidak akan terulang lagi jaman sekarang.

Continue reading “Film Jadul yang Cantik: Asrama Dara”

Kejumudan

Saya merasa tidak peka kembali terhadap alam sekitar saya. Rasanya semua diliputi kabut kesementaraan, kedangkalan, dan keterasingan. Pertanyaan-pertanyaan yang dulu menghiasi benak perlahan punah.

Ingin rasanya meluapkan keresahan. Namun, entah mengapa tertahan. Semakin sulit untuk mengungkapkan rasa yang tertinggal hanya angan-angan yang muluk dan busuk. Mungkin karena diri mulai memberontak pada kasunyatan.

Seiring berjalannya waktu semakin senyap. Mengapa alam rasanya tak bernyawa dan berdenyut lagi meski pengetahuan tentangnya (seharusnya) cenderung bertambah? Kehidupan seperti dalam fase terbanyang-banyangi kesuraman dan frekuensi-frekuensi sumbang yang menghalangi terpancarnya denyut kehidupan.

Diri ini kembali tak mampu mengimbangi ritme purba alam. Malah cenderung melawan dan tak patuh. Adapun yang menyebabkan hal itu terjadi kiranya bukan karena kesibukan atau kelelahan yang menggunung tetapi diri yang enggan membuka telinga batin.

Sungguh telinga batin itu terbuka akibat kesadaran terhadap setiap usaha dan doa yang diniatkan untuk sembahnyang dan tirakat. Diri ini kurang merenung.

Awal Semester

Tubuh kembali mendekam di ruang kelas yang pucat. Diri seolah meronta, mencoba memasukkan warna-warna itu dalam jiwa. Semakin tumpul saja kiranya otak ini.

Terekam ingatan tentang rindang belantara, sedikit demi sedikit menyatu dalam batin. Masih sejengkal belantara raya yang tersentuh tangan-tangan lemah ini. Masih selemparan batu rimba agung yang ditembus oleh mata buram ini. Namun, yang terjadi seolah-olah segenap hutan di bumi memanggil, merintih, dan merindu.

Sangat tersiksa batin ini ketika yang hanya bisa dilakukan diri ini hanyalah terdekam dalam ruang pucat dan dingin yang dibentuknya sendiri.

Wonosobo Aja Ilang Wanane

Saya melihat post Instagram tentang donasi bibit pohon pakan lutung jawa (disebut juga sebagai lutung budeng, Tracypithecus auratus ) di Gunung Bismo dan Gunung Prau. Beberapa bulan sebelumnya, saya melihat video perjumpaan seseorang dengan lutung jawa di Gunung Bismo.

Saya takjub, ternyata masih ada satwa itu di hutan-hutan alam yang tersisa di Wonosobo. Mungkin pernyataan saya di atas menunjukkan bahwa saya main kurang jauh di daerah saya sendiri. Namun poin saya bukan itu. Ini tentang pengetahuan kita sebagai masyarakat Wonosobo tentang sumberdaya yang kita miliki dalam hal ini pada aspek kehutanan.

Continue reading “Wonosobo Aja Ilang Wanane”